Senin, 03 Juni 2013

#CeritaDariKamar : Bantal dan Guling

Jika pada postingan sebelumnya aku membahas tentang kasur, kali ini aku akan membahas tentang sahabat-sahabatnya? Siapa mereka? Tentu saja bantal dan guling. Kasur tanpa bantal dan guling bagaikan sayur kurang garam #loh

Duh, gak bisa bayangin deh tidur tanpa dua makhluk ini (baca: bantal dan guling). Kalo di suruh milih antara kasur atau bantal dan guling, aku sih lebih memilih bantal dan guling hehe. Karena mereka lebih mengert aku dan bisa di bawa ke mana-mana.

Bantal dan guling di kamarku mempunyai andil yang cukup besar dalam perjalanan hidupku #halah. Sebenarnya di kamarku terdapat dua bantal dan dua guling. Tapi setiap malam selalu berkurang menjadi satu buah bantal dan satu buah guling. Iya, yang duanya dipake tidur adikku ehehehe.

Bantal ini sahabat terbaikku, lho. Dia rela menopang beban kepalaku di setiap malam. Terkadang ia menjadi saksi atas kegalauanku. Dan terkadang pula ia yang menenangkanku ketika rintik air mulai jatuh dari mataku.

Guling pun tidak mau kalah, guling juga merupakan sahabat terbaikku. Ia rela aku peluk semalaman tanpa mengeluh merasa sesak. Ia juga rela menjadi tempat pelampiasanku ketika aku sedang marah atau galau. Ah, aku tidak rela jika harus melewati malam tanpa bantal dan guling.

Duh, ngomongin bantal dan guling, jadi kepengen cepet tidur nih hehehe. Udah dulu, ya. Tulisan ini diketik dari dalam kamar. Tunggu #CeritaDariKamar selanjutnya yaa :)
Read More

Minggu, 02 Juni 2013

#CeritaDariKamar : Kasur

Ketika memasuki kamarku, hal yang pertama terlihat adalah sebuah ranjang dan kasur besar. Ranjang dan kasur yang hampir menyita seluruh isi kamarku. Sudah sekitar 3 tahun aku bersama kasurku. Namun kasurku masih tetap menjadi kasur yang nyaman. Kasur yang setia menampung tubuh lelahku.

Aku sangat mencintai kasurku. Hampir seluruh kegiatan di kamar kulakukan di atas kasur. Selain untuk tidur, aku bisa melakukan apapun di atasnya. Seperti bermain laptop, belajar, membaca buku, mengerjakan tugas, dan semua hal yang kucintai lainnya. Aku melakukannya di atas kasur.

Lebaran lalu, aku dan keluargaku mudik dadakan. Iya, dadakan. Karena kami merencanakannya tepat ketika hari raya. Dan kami berangkat sore harinya. Perjalanan mudik yang harusnya hanya sekitar 4-5 jam. Kami lalui menjadi 7 jam. Kami tidak diperkenankan melewati jalur pantura karena macet total. Alhasil, aku harus lebih berlama-lama lagi di dalam mobil. Untungnya perjalanan dilakukan di malam hari, jadi aku lebih banyak tertidur.

Di perjalanan, aku malah teringat sebuah kasur besar di kamarku. Kasur yang terkadang seluruh anggota keluargaku berkumpul diatasnya sekedar untuk bermain bersama adik kecilku. Ah, ingin sekali aku membawanya kemanapun aku pergi. Agar ketika lelah, aku hanya langsung membaringkan tubuhku. Hmm, namun itu tidak mungkin terjadi.

Tidak sampai di situ. Ketika sampai kampung, aku masih tetap merindukan kasur di kamarku. Padahal di sana aku pun tidur di atas kasur. Namun rasanya sangat berbeda. Bukan, bukan karena tidak empuk. Namun karena aku sudah terbiasa dengan kasurku. Jadi, meskipun aku menemukan kasur yang lebih empuk dari kasurku, pasti aku akan tetap merindukan kasurku.


Di ketik dari dalam kamar..
Read More

Jumat, 31 Mei 2013

Perubahan Besar


Yeayy akhirnya sudah memasuki akhir bulan.. Sebulan ini adalah masa – masa perkembangan yang luar biasa untuk blogku. Banyak sekali perubahan – perubahan di blogku, apalagi sejak aku masuk ke dalam keluarga besar Blogger Energy.  Yang mulanya hanya satu kali posting dalam sebulan, bulan ini aku sukses membuat 30 postingan (harusnya sih 31). Ya, aku sangat bangga dengan konsistensiku untuk menulis.. hehe..


Hari ini.. Di akhir bulan ini, aku melakukan perubahan besar terhadap blogku. Bagi yang pernah berkunjung ke sini, pasti dengan mudah mengetahui perubahan apa yang terjadi pada blog ini. Bukan, bukan perubahan template, karena aku masih setia bersama si pinky. Tapi.. perubahan pada “Coretan Kecilku”


Yap, dengan amat sangat terpaksa, aku harus merelakan “Coretan Kecilku”. Karena aku tidak mungkin menunggu coretan kecil – coretan kecil yang lain musnah. Oke, dari postingan ini, pasti sangat terlihat kelabilanku. Apalagi bagi yang sudah membaca postingan ini.


Setelah melalui pemikiran yang panjang, dan setelah menjalankan sholat istikharah sepanjang malam *oke, ini lebay*. Akhirnya aku memutuskan untuk mengganti “Coretan Kecilku” dengan....


“Sepenggal Coretan Kehidupan”





Oke, cukup sekian postingan kali ini. Postingan penutup yang membawa perubahan besar bagi blogku. Semoga dengan perubahan ini, aku bisa semkin semangat menulis..




With Love,
@endanada

Read More

Kamis, 30 Mei 2013

30 Mei 2013


Apa yang terjadi pada tanggal 30 Mei 2013?


Ah, sebenarnya aku tidak ingin mengingat lagi kejadian kemarin. Kejadian terburuk dalam perjalanan hidupku. Mungkin untuk beberapa orang, ini akan terkesan lebay. Namun bagiku, kejadian ini cukup memilukan.





Berawal dari bangun di pagi hari. Aku bangun pukul 5 pagi. Semuanya baik - baik saja. Aku membuka laptop-ku dan mengotak - atiknya, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 07.30. Aku pun bergegas bangkit meninggalkan laptopku. Hari ini, aku akan pergi ke walikota Jakarta Utara untuk mengurus beasiswa yang baru saja aku terima. Pesan yang kudapatkan dari panitia, pukul 9.00 sudah harus sampai di tempat yang telah dijanjikan.

Aku keluar dari rumah pukul 8.00. Itu pun dengan tergesa - gesa dan tak sempat sarapan. Aku langkahkan kakiku untuk menunggu angkutan umum yang biasa lewat di depan gang. Ya, dengan tidak memakan waktu yang lama, aku pun sudah duduk manis di dalam angkutan umum tersebut.

Aku sangat berharap jalan tidak macet dan aku bisa sampai walikota dengan waktu satu jam. Namun rupanya Allah tidak mengindahkan inginku. Di jalan raya, terhampar kontainer - kontainer yang sedang duduk manis menunggu gilirannya untuk jalan. Ya, sepanjag jalan raya penuh oleh kontainer - kontainer. Aku melirik jam tanganku, sudah menunjukkan pukul 08.30. Aku pun bergegas turun dari angkutan umum dan memilih untuk berjalan kaki. Entah sudah berapa lama aku berjalan dan sudah berapa orang yang menatapku iba. Namun aku tidak melihat angkutan umum yang menuju walikota. Aku terus berjalan, hingga akhirnya aku melihat angkutan umum yang kumaksud. Angkutan umum tersebut penuh, hanya tersisa satu tempat duduk. Syukurlah, pikirku.

Sepanjang jalan aku memilih untuk menutup mata. Aku bosan melihat pemandangan di sekitarku. Dalam hati aku berharap, semoga aku cepat sampai di tempat yang kutuju. Sekali lagi, aku melirik jam tanganku, tepat pukul 9.00. Namun jarak untuk sampai walikota masih sangat jauh. Aku pun segera mengirim pesan singkat kepada panitia mengenai keterlambatanku. Tak ada balasan. Hingga akhirnya aku sampai di tempat tujuan pukul 10.00. Ah, tidak biasanya aku terlambat.

Di walikota, aku hanya melihat anak - anak berseragam putih abu - abu. Mana mahasiswanya? Bathinku. Lalu aku menemui salah satu panitia. Dan dengan permohonan maafnya padaku, dia mengatakan kalau jadwal mahasiswa itu pukul 2 siang. Sontak aku pun marah. Namun untuk permintaan maafnya, saat itu juga aku diberi sebuah formulir dari beasiswa yang kuterima. Harusnya sih itu diberikan siang nanti, namun berhubung sang panitia menghargai usahaku, jadilah aku mendapatkan formulir tersebut saat itu juga. Setelah itu aku pamit untuk pulang. Tidak, aku tidak pulang ke rumah. Aku harus pergi ke kampus untuk mengikuti UAS sore nanti.

Pukul 11.00 aku berada di dalam transjakarta. Lagi, aku menutup mataku agar pemandangan sekitarku tidak terlihat. Rasa lapar dan haus mulai menyerang. Ah, rasanya aku ingin mengakhiri hari itu. Sampai di kampus, pukul 14.18. Bayangkan sendiri rasanya berada dalam perjalanan selama itu. Dan parahnya, untuk perjalanan selama itu, aku berdiri. Ya, BERDIRI. Aku merelakan kursi prioritas yang kududuki untuk ibu hamil yang lebih membutuhkannya ketimbang aku.

Singkat cerita, aku tidak akan membahas UAS terakhirku yang mengenaskan itu. Pukul 17.50 aku keluar dari kampus. Aku bersama kedua temanku yang searah denganku. Hujan pun turun. Aku dan kedua temanku berlarian di bawah hujan untuk mengejar metromini yang lewat. Ya, kami memutuskan untuk tidak naik transjakarta. Di dalam metromini, kami bertiga terdiam dengan pikiran kami masing - masing. Hingga akhirnya waktu pun sudah menunjukkan pukul 19.00. Dan jarak untuk sampai rumah kami, terlebih rumahku, masih sangat jauh. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki lagi.  Ya, dengan sisa tenaga yang kupunya, aku melirik jam. Tepat Pukul 20.00. Bayangkan sendiri rasanya berjalan selama satu jam. Dari cempaka putih, tepat di depan gudang garam, hingga MOI. Silakan bayangkan sendiri. Di tengah perjalanan itu, sebenarnya aku menangis. Ya, namun sebisa mungkin aku menyembunyikannya di depan kedua temanku.

Setelah berjalan selama satu jam, akhirnya kami pun menaikki angkutan umum. Masih pemandangan sama yang kulihat. Lagi, aku meneteskan air mataku dalam angkutan umum tersebut. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu. Aku hanya ingin sampai rumah. Kedua temanku pun menatapku dengan perasaannya masing - masing. Ya, kedua temanku sudah hampir dekat dengan rumah mereka. Sedangkan aku? Entahlah..

Kami turun dari angkutan umum tersebut pukul 20.50. Kedua temanku menunggu jemputannya masing - masih. Yang satu sudah datang. Yang satu lagi masih bersama denganku menunggu jemputannya. Sedangkan aku? Aku sudah minta jemput. Namun belum ada balasan. Ah, aku kembali menangis terisak. Temanku menenangkanku.  Hingga akhirnya ponselku berdering. Terdengar suara di ujung telepon, "Naik ojek aja nda, nanti bayarnya di rumah". Aku lemas mendengarnya. Mataku tak berhenti mengeluarkan air mata. Sama seperti hujan yang tidak berhenti sedari tadi.

Waktu menunjukkan pukul 21.10 dan aku masih berada di jalan. Oh, Tuhan.. Rasanya aku tidak ingin pulang ke rumah. Toh keluargaku pun tak ada yang mempedulikanku. Namun temanku, temanku masih setia bersamaku. Dia mencarikanku ojek dan meminjamkan payungnya untukku.

Aku pun menaikki ojek tersebut dengan perasaan kacau. Sepanjang perjalanan aku tidak berhenti menangis. Hingga akhirnya aku sampai di rumah. Semua keluargaku menunggu di depan rumah. Dan mereka mangucap hamdalah ketika aku sampai di rumah. Aku pun bergegas menuju kamarku untuk menuntaskan tangisku.





Read More

Rabu, 29 Mei 2013

Teruntuk Rons Imawan a.k.a Onyol



Aku masih mengingat dengan jelas ketika pertama kali aku mengenalmu dalam dunia yang di sebut – sebut maya ini. Detik ketika aku mengenalmu, aku langsung  jatuh cinta padamu, lewat tulisan – tulisanmu. Ya, masih terekam jelas dalam otakku ketika tulisan – tulisanmu mampu mengubah duniaku.
 
Aku tak mengingat persis tanggal, dan tahun berapa saat itu. Namun ketika itu statusku masih menjadi seorang siswi. Ya, pada suatu malam di sebuah warnet, sepulang dari latihan menari untuk ujian praktek. Aku masih harus menyelesaikan tugas dengan sisa tenaga yang ku punya. Tugas membuat proposal, kalau tidak salah. Membuatku terjebak dalam kekalutan yang hebat.

Di tengah – tengah kekalutanku, aku memberanikan diri membuka akun twitterku yang telah lama tidak kumainkan. Ah, malam itu aku terlalu asyik berkeliaran di dunia maya bernama twitter itu. Namun aku tidak menyesalkannya sama sekali. Karena malam itu yang mempertemukan kita.

Akun bernama @WOWkonyol telah mengubah kekalutanku menjadi semangat yang luar biasa. Sisa – sia air mata yang hampir jatuh pun segera kuusap. Bibirku tak berhenti menciptakan senyuman. Ya, malam itu kulalui dengan sangat sempurna. Dari sisa tenaga yang ku punya dan sebuah semangat yang kudapatkan itu, aku berhasil menyelesaikan tugasku.

Hari demi hari berlalu. Entah sudah berapa lama aku menjadi penggemar rahasiamu. Menikmati twit – twit konyolmu seorang diri. Tanpa pernah berusaha untuk sekedar menyapa lewat sebuah mention. Entahlah, aku terlalu takut jika mention-ku nanti tak terbalas.

Setiap twit darimu selalu membuatku nyaman berlama – lama memandangi timeline-mu. Terkadang semalaman tak terasa kuhabiskan hanya untuk menikmati twitmu. Meskipun sudah berulang – ulang kubaca, namun aku sangat menikmatinya. Lelucon, wejangan, cermis, sharing darimu selalu kunantikan. Hingga mungkin, tak ada twitmu yang terlewatkan olehku.

Hingga Kabar mengenai buku barumu berkeliaran di timelineku. Beberapa LOLers dan parabebep pun telah memilikinya. Aku sedih. Aku merasa gagal menjadi pengagummu. Terlebih ketika sosok udin datang. Aku tahu dia pemuda yang tangguh. Aku tahu dia pemuda yang hebat. Ah, bahkan aku tidak bisa menggambarkan sosok udin secara sempurna.

Maafkan aku, nyol. Aku merasa gagal. Aku gagal menjadi LOLers dan parabebep yang selalu kau sebut – sebut itu.


Read More

Senin, 27 Mei 2013

Apa Yang Salah Dari Galau?



Siapa sih yang gak kenal dengan kata ‘Galau’? Mulai dari anak – anak, remaja, hingga orang lanjut usia pun pasti tahu dan pernah merasakan kegalauan. Lalu, apa sih yang salah dari ‘galau’? ya jelas salah kalau akibat dari galau itu membuat kalian nangis tujuh hari tujuh malam, gak mau makan sebulan, bahkan sampai punya niatan untuk bunuh diri. Bukan, bukan galau seperti itu yang akan di bahas dalam postingan ini.

Pernah ada seorang teman berkata kepadaku, “Ah males buka blog lo. Paling isinya galau semua”. Ya, tidak jarang ada yang mengungkapkan hal itu padaku. Namun aku sama sekali tidak marah apalagi tersinggung. Karena galau yang kubuat adalah galau elegant. Galau yang bisa menciptakan sebuah karya. Meskipun karya tersebut mungkin hanya aku sendiri yang dapat menikmatinya.

Apa sih yang di maksud galau elegant? Entahlah, aku juga kurang mengetahui persis apa itu galau elegant. Yang aku tahu, Dwitasari, adalah yang pertama kali menobatkan dirinya sebagai Penggalau Elegant.

Ya, sosok Dwitasari adalah sosok yang fenomenal. Banyak pro dan kontra tentang dirinya. Dan meskipun tidak sedikit pula pemberitaan – pemberitaan buruk tentang dirinya, namun aku masih tetap bisa dan akan menikmati karya galaunya.

Ada sebuah kalimat darinya yang sangat kusuka, “Tidak semua yang aku tulis adalah aku. Dan tidak semua yang kamu baca adalah kamu”. Ya, entah kenapa aku sangat menyetujui kalimat tersebut. Memang sangat benar juga jika dipikir secara rasional. Tidak semua tulisan galau berarti si penulis sedang galau kan? Nah begitu pula dengan tulisan – tulisan yang aku tulis di blog ini

Sama hal nya dengan Dwita, aku pun menciptakan kalimat serupa yang pernah menjadi tagline blog ini. “Tidak semua yang kutulis dan kuungkapkan di halaman ini adalah isi hatiku.”


Read More

Minggu, 26 Mei 2013

My Web Face


Assalamualaikum..
Postingan kali ini berbeda dengan postingan - postingan sebelumnya. Karena kali ini aku akan memperlihatkan hasil karya yang kubuat lewat website : mywebface.com

Di web tersebut, kita bisa membuat cartoon sesuka hati kita. Bukan membuat sih, lebih tepatnya memadupadankan potongan - potongan cartoon yang tersedia. Jadi, di web tersebut telah tersedia beberapa jenis mata, hidung, mulut, telinga, rambut, warna kulit, pakaian, hingga aksesoris. Jadi kita tinggal memilih mana yang terbaik dan sesuai dengan keinginan kita.

Inilah beberapa karya yang kubuat di web my web face...


Selain cartoon setengah badan seperti contoh di atas, kita juga bisa membuat cartoon - cartoon menjadi lebih dekat. Contohnya seperti ini...


Kita juga bisa looh membuat cartoon seluruh badan. Seperti cartoon pengantin ini...

Ini setelah kugabungkan

Juga ini...



Bagaimana? Menarik bukan? Silakan mencoba sendiri :)

Read More

Sabtu, 25 Mei 2013

We Are I-smile :)


Alhamdulillah.. Sebulan ini rasanya lagi semangat - semangatnya untuk ngeblog. Semoga tetap istiqomah deh.. hehe..

Hmm, kalian yang pernah berkunjung ke blog ku, pernah gak sih ngebuka tab ♥Mine! :) yang ada di bagian atas blog ini? Kalau pernah, pasti dong tahu apa isi dari tab tersebut. Yap, tab tersebut berisi beberapa foto remaja labil yang narsisnya gak ketulungan. Salah satunya adalah aku. Iya, aku. Yang paling imut itu loh.. muehehehe :3

Nah, postingan kali ini akan membahas siapa mereka. Apakah komunitas jomblo akut? Atau segerombolan manusia alay yang baru pertama masuk mall? Ah, sudahlah lupakan.. semoga keduanya itu tidak benar.

We Are I-smile.. Yah, seperti judul dari postingan ini. Kami adalah I-SMILE. Makhluk Tuhan paling unyu. muehehehe :3

I-SMILE bukan sembarang nama biasa. Itu adalah nama yang kita berikan untuk persahabatan kita yang usianya sudah hampir seusia kita. Bagaimana tidak, kami bersahabat bahkan sejak kami masih balita. Kami tidak ingat persis bagaimana kami bertemu dan menjalin persahabatan selama itu. Namun kami sangat berterimakasih kepada Tuhan. Karena telah membiarkan kami bersama melewati masa – masa indah. Kami bersekolah di TK yang sama, Beberapa dari kami juga bersekolah di SD, SMP, bahkan SMA yang sama.

Selepas SMA,  mereka --juga aku-- telah mempunyai kesibukan masing – masing. Namun kami masih meluangkan waktu untuk bertemu setiap akhir pekan. Ya, sepulang kerja, mereka merelakan waktu istirahat mereka hanya untuk menghabiskan waktu bersama. Sekedar bercerita kegiatan kami selama seminggu, menceritakan mimpi - mimpi kami, atau bahkan hanya memandangi muda - mudi yang berseliweran di depan kami. Bukan, kami bukan komunitas jomblo. Beberapa dari kami sudah berpasangan, namun lebih memilih menghabiskan sabtu malamnya bersama sahabat. Ah, aku sangat menyayangi kalian..


Read More

Jumat, 24 Mei 2013

Prompt #13 : Warung Pak Win

Aku kembali menjejakkan kaki di tanah kelahiranku. Sudah 15 tahun berlalu sejak aku memilih untuk tinggal bersama nenek. Ingatanku kembali menerawang saat – saat indah bersama mama, papa, juga Kak Herman. Semuanya terasa sempurna. Hingga akhirnya Tuhan mengambil mama dariku ketika aku berusia 5 tahun. Kesempurnaan itu seakan hilang dan tak pernah datang lagi di kehidupanku.

Sejak mama pergi, papa jadi jarang pulang ke rumah. Sekalipun pulang, itupun sudah larut malam. Di saat aku dan Kak Herman sudah tertidur. Saat papa tidak pulang, aku sering tak tertidur dan menangis di pojok kamar. Mengingat mama, dan papa yang tidak ku ketahui keberadaannya. Kupandangi wajah kak arman yang sedang tertidur pulas. Aku bisa melihat luka di wajahnya. Aku bisa merasakan betapa letihnya ia saat menjagaaku seharian.

Lima tahun usiaku saat itu, sedang Kak Herman memasuki tahun kesepuluh. Saat itu aku mulai membenci papa. Kenapa papa begitu tega membiarkan Kak Herman berjuang seorang diri untuk menjagaku. Ah, aku tidak akan memaafkan papa seumur hidupku.

-----

credit

Kakiku berhenti di sebuah warung. Si pemilik warung  menyambutuku dengan ramah. Keriput di wajahnya semakin terlihat. Rambutnya pun hampir seluruhnya memutih.

“Mau cari apa, dek?” tanyanya ramah.

Aku tersenyum. Ah, Pak Win, masih seramah dulu.

“Aku mau bakso acinya ya, Pak Win” kataku dengan senyum yang tak kalah ramah darinya.

“Kok rasanya kita pernah saling kenal, ya, dek” kata Pak Win sambil menyuguhkan aci berbentuk bakso padaku.

“Ini Ara, Pak Win. Adik Kak Herman yang belasan tahun lalu tinggal di depan gang” aku berusaha mengembalikan ingatan Pak Win.

“Ara? Ya ampun, kamu sudah sebesar ini, nak” kata Pak Win sambil mengusap kepalaku. Aku mendekati Pak Win, menciumi tangan keriputnya. kupeluk erat Pak Win. Air mataku tumpah ruah membasahi  kaos oblongnya.

-----

Setelah melepas rindu, aku dan Pak Win  bercerita tentang masa kecilku bersama Kak Herman. Pak Win adalah lelaki tua yang saat itu sudah kuanggap sebagai kakekku sendiri. Seharian aku menghabiskan waktu di warung Pak Win bersama Kak Herman ketika papa tidak pulang.

“Eh, Ara kok nangis. Jelek tau. Kak Herman beliin bakso aci, ya? Tapi, uang kita sudah habis nih. Kita utang dulu ke warung Pak Win, kita bilang aja nanti Papa yang bayar”

Begitulah Kak Herman menyayangiku dan berusaha menjagaku. Ah, Kak Herman, aku sangat merindukanmu, kak.

Lalu setibanya di warung Pak Win, seperti biasa Kak Herman membawaku ke dapur. Tempat Pak Win memasak bakso aci.

“Eh, herman, jangan dibawa masuk adekmu. Nanti dia bisa sesak karena asap dapur” Kata Pak Win mewanti - wanti Kak Herman.

Kemudian Pak Win membawaku keluar. Menggendongku, layaknya seorang cucu kandung. Membelai rambutuku, mengusap air di pipiku. Ah, bahkan papa tidak pernah melakukannya padaku.

-----

Jika ada yang bertanya, siapakah yang paling kucintai di dunia ini?
Jelas ku jawab, Almarhum Mama, Kak Herman, dan Pak Win.



------

463 Kata 

Note : karena banyak yang mengira nyata, akhirnya aku buat note ini untuk menjelaskan kalau tulisan di atas merupakan fiksi yang di buat untuk mengikuti tantangan prompt dari Monday Flash Fiction.
Read More

Kamis, 23 Mei 2013

Menulis Di Saat Hujan


Ketika aku menulis tulisan ini, aku sedang berada di sebuah taman yang indah. Ya, sebuah taman yang berada di tengah - tengah masjid termegah di Jakarta Utara. Ini adalah kali ke dua aku datang ke Jakarta Islamic Centre seorang diri. Hanya untuk sekedar mencari inspirasi. Ya, tepatnya untuk menulis.

Suasananya yang indah, sejuk, dan damai membut jari - jariku semakin lincah menari - nari di atas papan tuts. Ditambah fasilitas wifi yang tersedia di seluruh penjuru masjid. Setelah sebelumnya aku memilih menetap di perpustakaan. Kali ini aku ingin sekali memandangi rumput - rumput yang indah. Melihat anak - anak berlari - lari begitu lincahnya. Memandangi anak - anak imut yang sedang dijadikan model oleh orang tuanya. Ah, semuanya sangat menentramkan hati. Sampai akhirnya hujan pun turun. Berawal dari gerimis, kemudian menjadi besar.

Sebenarnya saat aku berangkat dari rumah, tidak ada tanda - tanda akan turun hujan. Makanya aku memberanikan diri pergi ke masjid ini. Namun ternyata, saat aku sedang asyik menikmati suasana taman dan seisinya, hujan pun turun membasahi rumput - rumput di depanku. Dengan sangat terpaksa aku harus berpindah ke beranda masjid.

Tak berapa lama kemudian, adzan ashar terdengar dari masjid terbesar di Jakarta Utara ini. Aku pun lekas mematikan laptopku dan bergegas mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat ashar. Seusai sholat, aku berharap hujan reda agar aku bisa pulang. Namun hujan malah semakin deras. Seolah ia menahanku untuk pulang, agar aku kembali melanjutkan tulisan ini.

Aku memang pecinta hujan. Namun aku tidak mengharapkan hujan datang pada saat - saat seperti ini. Aku bisa melihat wajah bosan anak - anak yang menunggu hujan reda. Entah kapan hujan akan reda. Namun aku berharap, aku bisa ampai rumah sebelum maghrib tiba.

Read More

Rabu, 22 Mei 2013

Tempat Yang Terasingkan


Aku masih di sini. Di tempat terjauh dari hatimu. Tempat  menyimpan rindu – rindu yang tidak terungkapkan. Tempat menampung luka – luka yang berserakan. Tempat jatuhnya ribuan tetes air mata. Tempat yang bahkan engkau enggan untuk sekedar menoleh. Melihat semua penderitaan dan menyaksikan beribu kepiluan yang mendalam.

Aku masih di sini. Di tempat yang tak mungkin engkau temukan. Mengamati engkau dari kejauhan. Memperhatikan tanpa ada yang terlewatkan. Merekam semua yang kau katakan. Mencoba mengabadikan senyuman – senyuman. Mencoba menghapus peluh yang terkadang datang. Mencoba berharap agar kau sadar. Bahwa ada seorang yang selalu meninggikanmu dalam segala hal.

Aku masih di sini. Di tempat yang selalu kau abaikan. Di balik senyuman yang kutegar – tegarkan. Di balik air mata yang selalu kusembunyikan. Di pusat titik kejenuhan. Di ujung pangkal kekecewaan. Di antara puing – puing harapan. Semoga ini bukanlah batas akhir dari penantian. Karena layaknya sebuah penantian tidak akan pernah berakhir.

Aku masih di sini. Di tempat bermimpi yang tak berkesudahan. Mencoba berlari tapi tetap bertahan. Mencoba melupakan namun kutahu tak semudah membalikkan telapak tangan. Ah, semoga ini hanyalah sebuah mimpi yang panjang. Kini biarkan aku terbangun dan jangan pernah paksa aku untuk sekedar menoleh tempat yang terasingkan.

Read More

Selasa, 21 Mei 2013

Betapa Hinanya Aku..


Kutahu kau mendengar, Tuhan.. Ketika aku selalu menyebut namanya di setiap do'aku. Ketika aku selalu mengeluh karna do'aku tak kunjung kau kabulkan. Ketika aku hampir melangkah pergi dariMu. Padahal kutahu, kemanapun aku pergi aku akan selalu menemukanMu. Namun setidaknya, mungkin di kehidupan lain Engkau akan mengabulkan do'aku.

Kutahu kau melihat, Tuhan.. Ketika di setiap malam ku selalu terjaga untuk mendo’akannya. Ketika aku selalu menangis menahan rindu padanya. Ketika aku hampir mendekati keputus-asaan. Namun kutahu, Kau tidak akan membiarkan hambaMu berada dalam jurang penyesalan.

Kutahu kau tersenyum, Tuhan.. Ketika bibirku mulai melengkungkan senyuman. Ketika air mata penderitaan berubah menjadi kebahagiaan. Ketika aku akan mengucap syukur padaMu. Karena semua yang kuperjuangkan membuahkan hasil.

Ah, betapa hinanya aku, Tuhan. MengingatMu  hanya ketika mendapat kebahagiaan. Padahal kutahu, Kau selalu memelukku saat aku dalam kesulitan.
Read More

Minggu, 19 Mei 2013

[BeraniCerita #12]


Aku masih terpatung memandangi kotak segi empat di depanku. Entah kenapa aku ingin melihatnya lagi setelah bertahun – tahun aku menguburnya bersama lukaku. Kotak itu berisi sepasang sepatu cantik, yang kudapatkan ketika umruku genap berusia 7 tahun. Kini sepatu itu sudah tak secantik dulu, padahal aku belum pernah memakainya. Sepatu itu membuatku menoleh ke  masa – masa kelamku.

Saat itu, aku dan keluarga kecilku pergi ke sebuah mall untuk merayakan ulang tahunku. Bukan bersama ibu, tapi ayah bersama seorang wanita cantik. Kata ayah, ia adalah 'kakak'ku. Wah, betapa bahagianya aku ketika mengetahui aku mempunyai seorang 'kakak'. 'Kakak' itu baik sekali. Ia yang mehadiahkan kotak berisi sepatu itu padaku. Bahkan ketika ibu tak pernah menghadiahkan apa – apa untukku.

-----

Sudah 10 tahun berlalu sejak aku mengenal seorang wanita yang pada awalnya kusebut 'kakak'. Berarti sudah 10 tahun juga aku berpisah dengan ibu. Tepat di hari ulanh tahunku yang ke-7, ibu memutuskan untuk pergi. Aku tidak mengetahui apa alasan ibu meninggalkanku. Namun saat itu aku berusaha untuk tidak cengeng. Toh aku masih memiliki seorang ayah dan 'kakak' yang sangat menyayangiku.

Hingga suatu ketika, Mereka mendapatkan adik baru yang lebih lucu dariku. Sejak saat itulah, panggilan 'kakak' berubah menjadi mama. Iya, 'kakak'ku, adalah mama baruku.

-----

Aku kembali teringat pertemuanku dengan ibu 5 tahun silam. Hari itu adalah hari paling bahagia di dalam hidupku, karena pada hari itu aku bertemu dengan ibu setelah sekian lama berpisah. Ibu tidak berubah, masih secantik dulu.

“Ibu darimana saja? Kok ibu gak pernah pulang?” tanyaku sambil memeluk ibu.

“Ibu gak bisa pulang sayang” kata ibu dengan nada sendu.

“Kenapa bu? Ayah sekarang sudah berubah. Tidak seramah dulu. Begitu juga 'kakak'. Mungkin karena mereka telah mendapatkan adik baru” tanpa terasa, air mata telah membasahi seragam sekolahku.

“Kamu jangan sedih, sayang. Sekarang kan kamu sudah punya mama dan adik baru” kata ibu dengan tulus. Aku tau bahwa ia sedang berusaha menyembunyikan air matanya. Aku memeluk ibu. Erat sekali. Begitupun ibu. Seolah tidak mau terjadi perpisahan lagi.

“Ibu jangan pergi lagi ya” pintaku sambil terus memeluk ibu.

“Mengapa kau tidak menemui ibu saat ibu mengirim surat padamu?”

Aku terkejut. Surat? Surat yang mana? Aku tidak pernah mendapatkan surat apapun. Belum selesai aku berpikir, ibu sudah pamit untuk pergi.

“Ibu harus pergi sayang. Ibu sangat menyayangimu” kata ibu sambil mengecup keningku. Saat itu aku melihat butiran air di matanya.

-----

Setibanya di rumah, aku mencari surat yang di maksud. Sampai akhirnya kutemukan surat tersebut di dalam kotak sepatu pemberian 'kakak' mama. Sepatu itu memang tak pernah kupakai, apalagi sejak ibu pergi.

Kubaca perlahan surat dari ibu..

“Sayang, ibu harus pergi. Mungkin tak akan kembali lagi. Oh iya, ibu sudah mendengar kabar mengenai sepatu barumu. Pasti kamu suka ya? Maaf ya sayang, ibu tidak bisa menghadiahkan apa – apa untukmu. Sayang, semoga kamu bahagia. Untuk terakhir kalinya, bolehkan ibu bertemu denganmu? Besok pagi, ibu tunggu kamu di taman, ya. Semoga kau tak melupakan ibu, setelah kau mendapat sepatu baru.”

DEGG!
Aliran darahku berhenti. Dadaku terasa sesak. Bagaimana mungkin aku melupakan ibu, hanya karena sepasang sepatu..

-----

Words : 497



Read More

Sabtu, 18 Mei 2013

Peran Si 'Aku'



A-K-U. Seorang yang tidak bisa berdiri sendiri. Seorang yang tidak mungkin menjadi sempurna seorang diri. Seorang yang sudah terbiasa menyendiri. Menanti kamu yang entah kapan akan kembali.

A-K-U.  Seorang yang bersahabat baik dengan sepi. Seorang yang selalu mencoba menerka maksud hati. Seorang yang selalu bertanya kepada hati. "Hey.. masih sanggupkah kau untuk menanti?"


A-K-U. Seorang yang tak pernah bosan menunggu malam. Seorang yang selalu setia menunggu hujan. Seorang yang selalu menanti keajaiban datang. Meski tahu hanya akan mendapat kekecewaan.


A-K-U. Seorang yang selalu menjalankan perannya dengan sempurna. Seolah semua peran adalah nyata. Semua peran telah dikuasainya. Mencintai, membenci, bertahan, melepaskan, kecewa, bahagia. Ya, semuanya hanyalah sebuah peran bagi seorang 'aku'.
Read More

Jumat, 17 Mei 2013

Bersaksilah Di Hadapan Tuhan

"Apakah kau mencintaiku?"

----- 

Ah, lagi-lagi kau menanyakan hal yang menurutku tak layak untuk kau tanyakan. Aku sudah muak dengan pertanyaan - pertanyaan bodohmu. Aku pun sudah jenuh dengan segala ritual - ritual cintamu.

Mengapa kau masih saja tak paham dengan apa yang kurasakan. Seharusnya tak usah kau tanyakan lagi hal yang seharusnya bisa kau rasakan.Bukalah mata hatimu, maka tak akan ada lagi keraguan, sayang.

Apakah semesta harus mengetahui ketika aku mencintaimu.. Apakah sang waktu harus berhenti ketika aku  masih dan akan selalu mencintaimu.. Tidak, sayang. Biarlah ini menjadi rahasia kita dan Tuhan.

Bukankah kau tahu ketika di setiap malamku, aku selalu memohon yang terbaik untukmu. Bukankah kau juga tahu ketika aku selalu memperjuangkanmu, meski banyak orang tak menginginkannya..

Kini, bersediakah kamu menjawab kegelisahan di hati. Bukannya aku tak yakin. Namun hanya ingin memastikan. "Apakah kau bisa meyakini sang waktu,  jika kau mampu menjaga dan melindungiku..?" 

-----

Jika iya, bersaksilah di hadapan Tuhan..
Read More

Kamis, 16 Mei 2013

Aku Bukan Boneka


Lagi - lagi kau melanggar jajimu. Rasa - rasanya baru kemarin kau memohon kepadaku agar aku mempercayaimu. Tapi kini kau dengan mudahnya memudarkan kepercayaanku. Aku bersumpah, kali ini kau tidak akan mendapatkan kepercayaanku lagi.

"Maaf, sayang. Aku harus menemani mama di rumah sakit."

Hhh.. Sudah ratusan kali kau berbohong dengan mengatasnamakan ibumu. Kau pikir aku akan percaya? Kini aku tak sebodoh dulu, sayang. Aku bisa melihat kebohongan itu. Nampak jelas di matamu.

Kini, semuanya terserah kamu. Jika kau mau pergi, pergilah untuk selamnaya. Aku tak ingin  kau kembali hanya untuk meminta kepercayaanku lagi. Kepercayaanku sudah habis untukmu.

Aku bukan boneka.. Yang bisa kau mainkan sesuka hatimu. Lalu kau akan pergi jika kau bosan dan sudah menemukan yang lebih baik. Aku bukan boneka.. Yang bisa kau bohongi kapanpun kau mau. Lalu kau akan datang lagi jika kau membutuhkanku.

Silahkan carilah olehmu seorang yang dapat kau bodohi sesuka hatimu seperi boneka. Seseorang yang dapat kau bohongi lalu kau tinggal pergi.


Read More

Rabu, 15 Mei 2013

Sang Pemuja Aksara

Sudah satu jam berlalu sejak aku memutuskan untuk menulis.
Bolpoint sudah kugenggam erat di tanganku.
Secarik kertas  sudah tersaji di depan mataku.
Sebuah lagu favorit pun sudah diputar dengan sangat manis..

Kucoba kerahkan semua energi.
Kucoba mainkan imajinasi - imajinasi.
Namun otakku tak berhasil menciptakan aksara.
Iya,  tangan ini belum menghasilkan sebuah karya..

Lalu aku teringat kepada sang pemuja aksara.
Ah,  dulu, aku sangat mengaguminya.
Setiap aksara yang dibuatnya selalu membuatku jatuh cinta.
Seolah aksara – aksara tersebut mampu berbicara..

Kini, aku harus memaksa diri untuk membenci sang pemuja aksara.
Juga membenci aksara- aksara  yang telah membuatku buta.
Bahkan, aku juga mencaci semesta yang telah mempertemukan kita..

Ah, kutahu ini sangat rumit.
Sungguh sangat rumit?
Ataukah hanya aku yang membuat semuanya menjadi rumit?
Kekagumanku berubah menjadi Kebencian.
Dengan hanya hitungan detik.
Otakku pun sebenarnya sulit untuk mencerna..

----- 

Aku memang sangat lemah jika berhadapan dengan aksara.
Dan sebenarnya aku butuh sang pemuja aksara sepertinya.
Akupun memberanikan diri untuk menyapanya.
Kemudian aku memasuki kehidupannya..

Hingga aku belajar banyak hal darinya..
Mengenai kata, aksara, cinta, bahkan kecewa..
Read More

Selasa, 14 Mei 2013

Aku Dan Hujan


Aku masih di sini. Di balik jendela kayu tua. Memandangi tetesan air yang jatuh dari langit. Ah, hujan memang selalu indah. Hujan memang selalu meneduhkan. Tak heran jika ia mampu menempati tempat ke dua di hatiku. Setelah Kamu..

Sebenarnya, aku mulai menyukai hujan  sejak mengenalmu. Iya, aku selalu berusaha menyukai semua hal yang kau sukai. Agar kita mempunyai kesamaan yang sama. Terlalu memaksakan bukan? Entahlah.. Inilah aku..

Kita sama – sama menyukai hujan. Kita juga telah sering menghabiskan waktu bersama hujan. Untuk sekedar merasakan damai ketika tetesnya menyentuh tubuh.

Ah, itu hanya masa lalu. Namun entah kenapa hujan selalu menyeretku ke masa lalu. Masa ketika aku dan kamu masih menjadi kita.

Hujan selalu menceritakan tentang kebersamaan kita. Memutar kembali rekaman indah bersamamu, yang sebenranya  hanya membuatku semakin pilu.

Hmm.. Tanpa terasa, wanita yang mengaku dirinya kuat ini, Ternyata sedang memperlihatkan kelemahannya. Wanita ini terisak dalam tangisnya. Mungkin karena rindu di dadanya sudah sangat sesak. Lalu wanita ini berharap kepada Tuhan. Agar hujan mengirimkan bingkisan rindu untuknya.

Read More

Senin, 13 Mei 2013

Mengapa Coretan Kecilku?

Ketika ada yang bertanya, “Ada cerita apa sih di balik nama blog kamu?”

Mungkin aku hanya akan menjawabnya dengan senyuman. Iya, rasa-rasanya aku tidak punya cerita apa-apa di balik nama Coretan Kecilku. Semuanya mengalir begitu saja. Awalnya sih blog ini kuberi nama “Coretan Remaja Labil”, namun seiring berjalannya waktu dan berkurangnya kelabilanku, aku mengubahnya menjadi “It’s My Life”. Iya, inilah hidupku. Meskipun isinya jarang sekali menceritakan tentang kehidupanku. Namun nama itu tidak bertahan lama. Dan ternyata sifat labilku pun masih belum musnah sepenuhnya. Aku kembali mengubah nama blogku  menjadi “Coretan Kecilku”. Entah aku mendapatkan inspirasi darimana. Namun yang pasti, aku telah jatuh cinta pada "Coretan Kecilku" ini. Aku mulai berimanjinasi dengan coretan-coretanku..

Hari demi hari, minggu demi minggu, telah kulewati  bersama Coretan Kecilku. Aku semakin memahami mengapa nama itu yang kupilih untuk menjadi nama blogku. Apa mungkin karena blog ini berisi coretan-coretan yang kubuat dengan hati? Iya, aku selalu membuat setiap coretanku dengan hati. Namun  bukan berarti apa yang kutulis dan kutuangkan di blog ini adalah isi hatiku. Nah, dari pemikiran tersebut,  muncullah tagline..
Taline pertamaku..


Yang kemudian kuubah lagi menjadi..

♥Tidak Semua yang Kutulis dan Kuungkapkan di Halaman ini adalah Isi Hatiku..♥


Sebenarnya ada yang mengganjal pikiranku dengan nama "Coretan Kecilku". Akhir-akhir ini aku mendapati banyak kesamaan nama blog ketika aku search di google dengan keyword coretan kecilku. Aku pun kebingungan.. Tak tahu apa yang harus kubenahi setelah mengetahui hal tersebut. Apa harus berganti nama? Ah, namun kecintaanku terhadap "Coretan Kecilku" kian lama semakin membesar. Aku tidak rela melepasnya hanya untuk orang lain. Lalu, apa yang harus kulakukan? Menunggu coretan kecil - coretan kecil yang lain musnah? Sampai kapan? Entahlah..

Aku sadar betul kalau blog ini masih sangat jauh dari kata sempurna. Apalagi aku adalah pendatang baru di dunia perblogan. Dan juga sebenarnya  aku tidak bisa menulis. Aku hanya berusaha menyelamatkan kata demi kata yang bermain di otakku sebelum akhirnya menjadi sebuah kalimat. Kalau aku tidak menulisnya dalam sebuah coretan, aku akan lupa. Karena aku adalah seorang pelupa. Jadi, sebenarnya aku membuat Coretan-coretan Kecil ini karena aku adalah seorang pelupa. Seorang pelupa harus membuat coretan-coretan dalam hidupnya. Walaupun hanya sebuah Coretan Kecil.

with love,

Read More

Minggu, 12 Mei 2013

Siapa Aku Ini..

Aku memperhatikanmu sejak tadi.
Kegelisahanmu, Ketidaktenanganmu,
Membuatku ikut dalam keresahan.
Ingin sekali aku memelukmu dan menenangkanmu.
Membiarkan kepalamu bersandar dipundakku.
Ah, Siapa Aku Ini?

Aku masih terus memperhatikanmu.
Kamu tetap manis dalam keadaan apapun.
Membuatku semakin berimajinasi tentangmu.
Rasaku tak pernah berkurang sedikitpun.
Rasa ingin memilikimu, Melindungimu.
Ah, lagi-lagi.. Siapa Aku Ini?

Di tengah masalahmu seperti ini.
Aku rela untuk selalu berada disampingmu.
Sekedar menjadi tempat keluh kesahmu.
Menjadi penenang atas kegelisahanmu.

Lalu kau boleh pergi ketika masalahmu sudah teratasi.
Iya, kau boleh pergi kapanpun kau mau.
Bagaimana? Jika kau mau, kau hanya perlu tersenyum kepadaku.
Kepada gadis yang sedari tadi memperhatikanmu.
Dari jarak 9cm.

Diketik Oleh :
Aku.. yang tak pernah bosan memperhatikanmu..


Read More

© 2013 Sepenggal Coretan Kehidupan, AllRightsReserved.