Bukankah kau sudah menutupnya lebih dulu?

Sungguh, semua ini begitu menyiksaku. Kupikir waktu dua tahun sudah cukup membuatku tersiksa oleh bayang-bayangmu. Ternyata aku salah. Di tahun ke 3 aku mengenalmu, aku masih merasakan hal yang sama. Mengapa bayanganmu selalu menyiksaku? Aku lelah menghindarinya.

Aku tahu aku bohong jika ku bilang bahwa aku sudah melupakanmu. Nyatanya, kamu masih pandai bermain-main dalam setiap imajinasiku. Faktanya, kamu masih saja menyita seluruh waktuku. Oh Tuhan, mengapa kau ciptakan perasaan ini? Sungguh, aku letih untuk menjaganya.

Entahlah, mungkin aku terlalu menganggapmu istimewa sehingga tak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku. Entahlah, sekeras apapun aku berlari menjauhimu, kau selalu berada tepat di depanku. Sudahlah, tak usah kau hiraukan aku. Karena aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seseorang yang selalu meninggikanmu dalam segala hal. Hahaha aku tahu aku berlebihan.

Kau tahu? Mataku telah berhasil menciptakan kantung. Hasil dari begadangku selama berhari-hari. Iya, aku terlalu asyik memikirkanmu hingga larut. Larut dalam waktu, juga larut dalam perasaan. Sungguh, aku pun tak mengerti kenapa aku melakukannya. Yang kutahu, ketika aku mengingatmu, aku selalu merasakan kedamaian.

Hmm, kau pasti jenuh mendengar ceritaku. Tutup saja telingamu, agar kau tak mendengar nyanyian rindu yang selalu ku senandungkan. Atau, kau juga boleh menutup matamu. Agar kau tak melihat apapun dari hatiku. Mengenai hati, bukankah kau sudah menutupnya lebih dulu?


#DuetPuisi : Sang Bintang

Pada kesunyian, aku menaruh harapan.
Dalam kebisuan, aku menyimpan doa-doa yang tidak terungkapkan.
Sungguh ini sangat memilukan, Tuan.
Aku masih menanti sang bintang.
Namun aku enggan menampakkan diri pada malam.
Hinakah aku, Tuan?
Demi tetesan air yang jatuh dari pelupuk mataku.
Izinkan aku mencintaimu.
Dengan, atau tanpa nafasku.

Demi doa-doa yang selalu keluar dari mulutku.
Izinkan aku menyayangimu.
Hidup, atau mati jiwaku.

Biarlah hanya waktu yang mengetahui.
Biarlah hanya selembar kertas yang menjadi saksi.
Dan biarlah kesunyian yang menjaga cinta ini.

Ah, kesunyian ini semakin membuatku berharap.
Berharap pada gelap malam.
Berharap pada sang bintang.
 
Tuan, izinkan aku menjemput sang waktu.
Agar detaknya menjadi temanku.
Lalu kita berbincang mengenai harapan-harapan semu.

Sekali lagi, Tuan. Izinkan aku tetap menanti.
Agar sepi tak lagi sendiri.
Agar ia tak lagi meringik pedih.


"Jika ini ramadhan terakhirku..."

"Jika ini ramadhan terakhirku..."

Ya Allah.. Ya Rabb.. Hati terasa terguncang ketika melafadzkan kaliamat di atas. Jika ini ramadhan terakhirku, apa yang telah aku siapkan untuk bertemu Engkau, Ya Rabb.. Amal apa yang telah aku kumpulkan untuk berjumpa denganMu.. Rasanya dada ini sesak ya Rabb.. Kematian sudah di depan mata. Namun aku tidak punya persiapan untuk  menjemputnya..

"Jika ini ramadhan terakhirku..
Izinkan aku pantas untuk bertemu denganMu, ya Rabb..
Perkenankan aku mewujudkan mimpi-mimpiku.."

Bicara tentang mimpi, begitu banyak mimpi-mimpi yang belum terwujud. Maka, jika ini ramadhan terakhirku aku ingin sekali mewujudkan mimpi-mimpiku. Aku ingin membuat suatu perubahan dalam hidupku. Perubahan besar yang mungkin bisa membuat orang tua bangga padaku. Hingga ketika ini adalah ramadhan terakhirku, aku bisa meninggalkan sesuatu yang membuat mereka bangga telah memiliki aku.

-----

Aku hanyalah wanita sederhana yang dibesarkan oleh keluarga sederhana. Bersyukur aku mempunyai lingkungan yang sangat peduli dengan agama. Setidaknya, aku tidak merasa 'buta' dengan agama. Saat ramadhan seperti ini, masjid yang berada tepat di depan rumahku tidak pernah sepi. Jangankan ramadhan, bulan biasa pun tak pernah sepi. Jama'ah shubuh tidak pernah sepi, apalagi kosong. Setidak-tidaknya ada 2 shaf dalam bulan biasa. Dalam ramadhan, Alhamdulillah selalu penuh.

Seusai shalat shubuh, masjid pun tidak lantas menjadi sepi. Ada manusia-manusia pilihan yang selalu membaca ayat-ayat ilahi dengan pengeras suara. Sehingga aku pun menjadi terdorong untuk melakukan hal serupa. Alhamdulillah, di awal-awal ramadhan, aku bisa menyelesaikan 2 juz dalam satu hari. Sehingga, aku mempunyai target akan khatam pada hari ke 15. Kenyataannya? Berhenti pada ramadhan ke-6. Waktu itu aku sudah menyelesaikan 12 juz. Namun hingga kini, sungguh menyedihkan. Bagaimana bisa khatam jika aku terus bermalas-malasan. Mentok di juz 16. Entah kapan akan kulanjutkan. Yaa Rabb :'(

Shalat tarawih. Aku sangat berusaha untuk menjalankan sholat tarawih penuh selama satu bulan.Terlebih rumahku tepat depan masjid. Rasanya sangat hina jika tidak melaksanakannya. Tapi kenyatannya? Saat turun hujan pun aku enggan untuk melangkahkan kakiku ke masjid. Ternyata imanku tidak lebih kuat dari hujan.

-----

Maka, jika ini ramadhan terakhirku, aku ingin sekali memperbaiki apa yang memang seharusnya kuperbaiki. Aku ingin sekali melakukan kebaikan yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Aku ingin mengabdi pada agama. Aku ingin mempersembahkan hidup untuk agama. Sehingga ketika saat itu tiba, aku bisa meninggalkan dunia ini dalam keadaan Husnul Kotimah. Aamiin Allahumma Aamiin.



Wassalam,
@endanada


 

#DuetPuisi : Tempat Yang Terasingkan

Aku masih di sini. Di tempat terjauh dari hatimu. Tempat  menyimpan rindu – rindu yang tidak terungkapkan. Tempat menampung luka – luka yang berserakan. Tempat jatuhnya ribuan tetes air mata. Tempat yang bahkan engkau enggan untuk sekedar menoleh. Melihat semua penderitaan dan menyaksikan beribu kepiluan yang mendalam.

Aku masih di sini. Di tempat yang tak mungkin engkau temukan. Mengamati engkau dari kejauhan. Memperhatikan tanpa ada yang terlewatkan. Merekam semua yang kau katakan. Mencoba mengabadikan senyuman – senyuman. Mencoba menghapus peluh yang terkadang datang. Mencoba berharap agar kau sadar. Bahwa ada seorang yang selalu meninggikanmu dalam segala hal.

Aku masih di sini. Di tempat yang selalu kau abaikan. Di balik senyuman yang kutegar – tegarkan. Di balik air mata yang selalu kusembunyikan. Di pusat titik kejenuhan. Di ujung pangkal kekecewaan. Di antara puing – puing harapan. Semoga ini bukanlah batas akhir dari penantian. Karena layaknya sebuah penantian tidak akan pernah berakhir.

Aku masih di sini. Di tempat bermimpi yang tak berkesudahan. Mencoba berlari tapi tetap bertahan. Mencoba melupakan namun kutahu tak semudah membalikkan telapak tangan. Ah, semoga ini hanyalah sebuah mimpi yang panjang. Kini biarkan aku terbangun dan jangan pernah paksa aku untuk sekedar menoleh tempat yang terasingkan.

Apa yang salah dari "friendzone"?

Mendengar kata friendzone, aku jadi teringat dengan kejadian di masa lalu. Entahlah itu termasuk friendzone atau bukan. Namun menurutku, friendzone bukanlah hal yang salah untuk dijalankan. Sebuah rasa yang hadir dalam zona pertemanan bukanlah sesuatu yang hina. Semua terasa wajar dan manusiawi. Toh fitrah manusia kan memang untuk mencintai dan dicintai.

Lalu apa yang salah dalam friendzone? Menurutku tidak ada yang salah. Malah aku memberikan apresiasi yang baik untuk sebuah pertemanan seperti itu. Kenapa? Karena menurutku tidak mudah menjalankan dua peran sekaligus untuk satu orang. Satu sebagai seorang teman atau sahabat. Dan satu lagi sebagai seorang yang spesial di hati.

Aku pun pernah terjebak dalam zona pertemanan seperti itu. Pertemanan yang kubangun bersama seseorang ternyata berujung kepada sebuah perasaan yang entah darimana perasaan itu muncul seiring berjalannya pertemanan. Memang di antara kita tidak ada yang saling mengungkapkan, namun aku yakin bahwa saat itu kita memang saling merasakan sesuatu yang mungkin sebenarnya tidak boleh dirasakan oleh sesama teman. Kita pun berusaha untuk menghindarinya. Dan samua berjalan dengan baik. Kita masih tetap dekat dengan perasaan yang tiba-tiba muncul di hati. Justru menurutku, saat-saat seperti itulah yang lebih terkesan. Dibandingkan mengungkapkan perasaan, lalu kemudian jadian. Itu sudah biasa dan sudah banyak orang yang melakukan.

Nah kalau friendzone menurutku itu lebih menarik. Kenapa? Karena dengan berada dalam posisi friendzone itu kita bisa mendapatkan keduanya. Sahabat dan seorang yang spesial di hati. Kita bisa menjadi sahabat sekaligus pendengar yang baik ketika diantara kita membutuhkan. Kita juga bisa mendapatkan perhatian lebih yang biasa didapatkan dari seorang teman.

Study Kasus : Ketidakadilan Anak Terhadap Orang Tua

Disadari atau tidak, ternyata banyak sekali bentuk ketidakadilan anak terhadap orang tua. Banyak anak tidak mengetahui kewajiban – kewajibannya sebagai anak. Namun di sisi lain anak selalu menuntut haknya terpenuhi oleh orang tua. Sehingga tidak sedikit orang tua yang merasa dirugikan dalam hal ini. Dalam kasus ini, saya akan membahas mengenai apa saja bentuk ketidakadilan anak terhadap orang tua, mengapa hal tersebut terjadi, apa akibat bila hal tersebut terjadi, dan bagaimana mengatasi ketika hal tersebut benar-benar terjadi.


Bentuk ketidakadilan anak terhadap orang tua
Dalam kasus ini, saya akan membahas suatu bentuk ketidakadilan anak terhadap orang tua yang pernah atau sering terjadi di sekitar saya. Dewasa ini, banyak anak mulai tak betah tinggal di rumah. Rumah seolah hanya menjadi tempat transit untuk tidur. Pagi pergi beraktivitas, pulang sore atau bahkan malam, setelah itu hanya mengurung diri di kamar. Sehingga tidak ada celah komunikasi antara anak dan orang tua. Orang tua pun merasa tak dihargai. Karena sebenarnya orang tua masih membutuhkan telinga anak untuk mendengar keluh kesahnya. Atau mungkin orang tua membutuhkan bantuan anak untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Namun banyak anak yang kurang peka akan hal itu. Dan menurut saya, itulah suatu bentuk ketidakadilan yang paling sering dilakukan anak terhadap orang tua.

Mengapa hal tersebut terjadi?
Terkadang anak merasa tak dihargai dalam keluarganya atau merasa selalu dibanding-bandingkan dengan anggota keluarga lainnya. Sehingga sedikit demi sedikit anak mulai membuat jarak dengan orang tua. Anak jadi tertutup dan berujung pada menjauhi hal yang berhubungan dengan keluarga. Anak mulai mencari kesibukan dan lingkungan baru yang sekiranya anak merasa dihargai di lingkungan barunya.

Akibat bila hal tersebut terjadi
Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi bila ketidakadilan seperti itu dilakukan oleh anak. Bukan saja berimbas pada orang tua, anak pun pasti terkena dampaknya. Karena layaknya sebuah hubungan, hubungan orang tua dengan anak pun harus baik. Harus ada komunikasi yang cukup diantara keduanya. Bagaimana mungkin seorang anak mendapatkan hak dari orang tua ketika anak tersebut tak pernah berkomunikasi dengan orang tua? Dengan berkelakuan seperti itu, orang tua jadi tak mengetahui masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan anak. Dan anak pun menjadi enggan untuk menyampaikan masalahnya kepada orang tua. Yang ujungnya, anak mencari jalan instan untuk masalahnya tersebut, atau bahkan anak lari dari masalah.

Bagaimana mengatasinya ketika hal tersebut benar-benar terjadi?
Hal pertama yang harus dilakukan orang tua ketika anak melakukan ketidakadilan tersebut adalah menjalin komunikasi. Jalinlah komunikasi yang baik dengan anak. Tanya, apakah mereka pernah membuat kesalahan sehingga sang anak membuat jarak dengan mereka? Jika iya, segeralah minta maaf. Bukan tidak mungkin orang tua melakukan kesalahan, maka minta maaflah kepada anak.



-----

Entah sudah berapa tetes air mata yang membasahi secarik kertas di genggamanku ini. Aku tak kuasa untuk sekedar menahan agar tetesan itu tak jatuh kembali. Tulisan-tulisan diatasnya semakin tak terlihat. Tuisan-tulisan yang baru saja kubuat sebagai bentuk protesku terhadap Tuhan. Oh Tuhan. Aku tidak sanggup lagi. Kapan giliranku untuk bahagia, Tuhan? Aku lelah menunggu jawaban atas doa-doaku. Aku letih menanti tangan kekar-Mu yang akan memelukku. Kapan saat itu tiba, Tuhan?

Coretan Tanpa Judul



Di tempat kuberdiri. Aku bisa melihat dengan jelas sosok yang tak pernah luput dari doa-doaku. Sosok itu begitu meneduhkan. Bagiku, dan mungkin bagi semua orang yang memandangnya. Ada senyuman kecil yang selalu menghiasi bibir indahnya. Ah, senyuman itulah yang membuatku betah berlama-lama memandangnya.

Di tempat kumenginjakkan kaki. Aku memikirkan banyak hal. Dan dari sekian banyaknya hal yang kupikirkan, semuanya menyangkut kamu. Iya, kamu. Pemilik wajah yang begitu meneduhkan. Bagaimana mungkin seorang hina sepertiku lancang menaruh hati kepada sosok sesempurna kamu.

Di tempat kumenyendiri. Aku mengubur semua mimpiku. Mimpi tentang KITA, yang pernah menjadi kebahagiaan tersendiri untukku. Aku sadar, bahwa mimpi tetaplah menjadi mimpi, tanpa usaha yang berarti. Aku sadar, bahwa aku tidak mampu untuk sekedar meyakinkan diri bahwa aku bisa mewujudkan sang mimpi.