Rasulullah♥

Rasulullah dalam mengenangmu
Kami susuri lembaran sirahmu
Pahit getir perjuanganmu
Membawa cahaya kebenaran

Engkau taburkan pengorbananmu
Untuk umatmu yang tercinta
Biar terpaksa tempuh derita
Cekalnya hatimu menempuh ranjaunya

Tak terjangkau tinggi pekertimu
Tidak tergambar indahnya akhlakmu
Tidak terbalas segala jasamu
Sesungguhnya engkau rasul mulia

Tabahnya hatimu menempuh dugaan
Mengajar arti kesabaran
Menjulang panji kemenangan
Terukir namamu di dalam Al Quran

Rasulullah kami ummatmu
Walau tak pernah melihat wajahmu
Kami coba mengingatimu
Dan kami coba mengamal sunnahmu

Kami sambung perjuanganmu
Walau kami dicaci dihina
Tapi kami tak pernah kecewa
Allah dan rasul sebagai pembela

***

Selain lirik Yaa Rasulullah yang pernah kubagikan di blog ini. Aku kembali mengingat-ingat lagi lirik lagu tentang Rasulullah. Akhirnya aku menemukan lirik ini. Mari sama-sama kita bersholawat kepada Rasulullah lewat sebuah nada :)

Yaa Rasulullah♥


Alangkah indahnya hidup ini 
Andai dapat kutatap wajahmu
Kan pasti mengalir air mataku
Karena pancaran ketenanganmu

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kukecup tanganmu
Semoga mengalir keberkatan dalam diriku
Untuk mengikut jejak langkahmu

 Yaa Rasulullah Yaa Habiballah 
Tak pernah kutatap wajahmu
 Yaa Rasulullah Yaa Habiballah 
Kami rindu padamu

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kudekap dirimu
Tiada kata yang dapat aku ucapkan
Hanya Tuhan saja yang tahu

Kutahu cintamu kepada umat
"Ummaty.. Ummaty.."
Kutahu bimbangnya kau tentang kami
Syafaatkan kami

Yaa Rasulullah Yaa Habiballah 
Terimalah kami sebagai umatmu 
Yaa Rasulullah Yaa Habiballah 
Kurniakanlah syafaatmu




***



Entah kenapa pengen banget ngeshare lagu ini. Ini lagu udah banyak dinyanyiin sama penyanyi realigi seperti Raihan, Alm. Ustad Jefri, Wafiq Azizah, dan banyak lagi. Menurutku ini adalah lagu syahdu nan serat makna. Semoga setelah menyenandungkan lagu ini, kecintaan terhadap Rasulullah semakin meningkat dan terus meningkat.

#CeritaDariKamar : Bantal dan Guling

Jika pada postingan sebelumnya aku membahas tentang kasur, kali ini aku akan membahas tentang sahabat-sahabatnya? Siapa mereka? Tentu saja bantal dan guling. Kasur tanpa bantal dan guling bagaikan sayur kurang garam #loh

Duh, gak bisa bayangin deh tidur tanpa dua makhluk ini (baca: bantal dan guling). Kalo di suruh milih antara kasur atau bantal dan guling, aku sih lebih memilih bantal dan guling hehe. Karena mereka lebih mengert aku dan bisa di bawa ke mana-mana.

Bantal dan guling di kamarku mempunyai andil yang cukup besar dalam perjalanan hidupku #halah. Sebenarnya di kamarku terdapat dua bantal dan dua guling. Tapi setiap malam selalu berkurang menjadi satu buah bantal dan satu buah guling. Iya, yang duanya dipake tidur adikku ehehehe.

Bantal ini sahabat terbaikku, lho. Dia rela menopang beban kepalaku di setiap malam. Terkadang ia menjadi saksi atas kegalauanku. Dan terkadang pula ia yang menenangkanku ketika rintik air mulai jatuh dari mataku.

Guling pun tidak mau kalah, guling juga merupakan sahabat terbaikku. Ia rela aku peluk semalaman tanpa mengeluh merasa sesak. Ia juga rela menjadi tempat pelampiasanku ketika aku sedang marah atau galau. Ah, aku tidak rela jika harus melewati malam tanpa bantal dan guling.

Duh, ngomongin bantal dan guling, jadi kepengen cepet tidur nih hehehe. Udah dulu, ya. Tulisan ini diketik dari dalam kamar. Tunggu #CeritaDariKamar selanjutnya yaa :)

#CeritaDariKamar : Kasur

Ketika memasuki kamarku, hal yang pertama terlihat adalah sebuah ranjang dan kasur besar. Ranjang dan kasur yang hampir menyita seluruh isi kamarku. Sudah sekitar 3 tahun aku bersama kasurku. Namun kasurku masih tetap menjadi kasur yang nyaman. Kasur yang setia menampung tubuh lelahku.

Aku sangat mencintai kasurku. Hampir seluruh kegiatan di kamar kulakukan di atas kasur. Selain untuk tidur, aku bisa melakukan apapun di atasnya. Seperti bermain laptop, belajar, membaca buku, mengerjakan tugas, dan semua hal yang kucintai lainnya. Aku melakukannya di atas kasur.

Lebaran lalu, aku dan keluargaku mudik dadakan. Iya, dadakan. Karena kami merencanakannya tepat ketika hari raya. Dan kami berangkat sore harinya. Perjalanan mudik yang harusnya hanya sekitar 4-5 jam. Kami lalui menjadi 7 jam. Kami tidak diperkenankan melewati jalur pantura karena macet total. Alhasil, aku harus lebih berlama-lama lagi di dalam mobil. Untungnya perjalanan dilakukan di malam hari, jadi aku lebih banyak tertidur.

Di perjalanan, aku malah teringat sebuah kasur besar di kamarku. Kasur yang terkadang seluruh anggota keluargaku berkumpul diatasnya sekedar untuk bermain bersama adik kecilku. Ah, ingin sekali aku membawanya kemanapun aku pergi. Agar ketika lelah, aku hanya langsung membaringkan tubuhku. Hmm, namun itu tidak mungkin terjadi.

Tidak sampai di situ. Ketika sampai kampung, aku masih tetap merindukan kasur di kamarku. Padahal di sana aku pun tidur di atas kasur. Namun rasanya sangat berbeda. Bukan, bukan karena tidak empuk. Namun karena aku sudah terbiasa dengan kasurku. Jadi, meskipun aku menemukan kasur yang lebih empuk dari kasurku, pasti aku akan tetap merindukan kasurku.


Di ketik dari dalam kamar..