Semua Tentangnya itu Indah

Aku menarik nafas panjang, kemudian menghempaskannya kembali. Ku lirik jam di handphoneku. Sudah pukul 2 pagi. Namun aku masih terjaga. Aku mengotak-atik handphone-ku. Kubuka pesan singkat darinya yang masih tersimpan rapih dalam kotak masukku. Dan aku masih mengingat satiap kata yang pernah ia kirimkan untukku.

“good night dear :)”

Isi pesan singkat yang membuat bibirku tersenyum. Singkat. Namun mampu membuatku bahagia. Aku sangat bahagia ketika pertama kali mendapat pesan singkat tersebut.

Ah, aku terlalu berlebihan. Sebenarnya tidak ada hubungan spesial antara aku dan dia. Dia menganggapku sahabat. Namun aku menganggapnya lebih. Dia menganggapku hanya seorang dari banyaknya orang di hidupnya. Namun aku menganggapnya segalanya. Dia memberikan sedikit perhatiannya untukku. Namun aku memberikan seluruhnya.

Ya, aku menyukainya. Bahkan sejak pertama kali kita bertemu. Sikapnya, tutur katanya, mencerminkan seorang yang berkepribadian baik. Menurutku, dia adalah calon imam yang sempurna. Beruntunglah orang yang akan menjadi bagian hidupnya.

"Semua tentangnya itu indah, maka tak akan ku sesali takdir Tuhan yg telah mempertemukanku dengannya."

Aku sadar bahwa aku mulai mencintainya. Ketika ia mulai hadir disetiap malamku. Memenuhi setiap ruang di pikiranku. Memasuki sudut-sudut terkecil di otakku. Dan kini, dia sudah menguasai seluruh hatiku.

Sekarang aku mengerti, bahwa aku mulai menyayanginya. Aku merasa takut kehilangan. Bodoh memang! Karena seharusnyanya aku tidak akan pernah kehilangan jika aku belum memilikinya.